Valentine days without love



Bulan Februari. Kata orang sih bulan penuh cinta. Gimana engga? Kan di bulan Februari orang-orang pada merayakan Hari Kasih Sayang alias Valentine's Day yang jatuh tgl 14 Februari. tepatnya besok so nanti malem malem valentine, pas malem minggu lagi.

Humm... coba aja sekali-kali pergi ke Mall dibulan Februari pasti banyak dijumpai pernak-pernik berbau "cinta" like warna pink, pernik berbentuk hati, pita, boneka-boneka, coklat, bunga, dan lain sebagainya yang merupakan simbol dari kasih sayang.Momentum ini sangat disukai anak-anak remaja, siapa sih yang gak kenal dengan Valentine’s day? Yup betul mereka –yang merayakan- mendaulat Valentine days sebagai hari kasih sayang, walaupun dalam kamus bahasa manapun kita gak akan nemuin arti Valentine’s day sebagai hari kasih sayang. Trus diambil dari mana ya nyambungnya Valentine's Day dengan Hari Kasih Sayang????
Untuk ngejawab pertanyaan di atas maka kita kudu tahu sejarah asal mula kenapa ada Valentne’s day, jangan sampai kita menjadi generasi bebek, yang hanya ikut-ikutan ngerayain setiap tanggal 14 febuari, tanpa tahu betul bagaimana dan kenapa ada Valentine’s day..

SEJARAH VALENTINE DAY
Sesungguhnya, belum ada kesepakatan final di antara para sejarawantentang apa yang sebenarnya terjadi yang kemudian diperingati sebagaihari Valentine. Dalam buku ‘Valentine Day, Natal, Happy New Year, AprilMop, Hallowen: So What?” (Rizki Ridyasmara, Pusaka Alkautsar, 2005),sejarah Valentine Day dikupas secara detil. Inilah salinannya:Ada banyak versi tentang asal dari perayaan Hari Valentine ini. Yangpaling populer memang kisah dari Santo Valentinus yang diyakini hiduppada masa Kaisar Claudius II yang kemudian menemui ajal pada tanggal 14Februari 269 M. Namun ini pun ada beberapa versi. Yang jelas dan tidakmemiliki silang pendapat adalah kalau kita menelisik lebih jauh lagi kedalam tradisi paganisme (dewa-dewi) Romawi Kuno, sesuatu yang dipenuhidengan legenda, mitos, dan penyembahan berhala.Menurut pandangan tradisi Roma Kuno, pertengahan bulan Februari memangsudah dikenal sebagai periode cinta dan kesuburan. Dalam tarikhkalender Athena kuno, periode antara pertengahan Januari denganpertengahan Februari disebut sebagai bulan Gamelion, yangdipersembahkan kepada pernikahan suci Dewa Zeus dan Hera.

Di Roma kuno, 15 Februari dikenal sebagai hari raya Lupercalia, yangmerujuk kepada nama salah satu dewa bernama Lupercus, sang dewakesuburan. Dewa ini digambarkan sebagai laki-laki yang setengahtelanjang dan berpakaian kulit kambing.Di zaman Roma Kuno, para pendeta tiap tanggal 15 Februari akanmelakukan ritual penyembahan kepada Dewa Lupercus denganmempersembahkan korban berupa kambing kepada sang dewa.Setelah itu mereka minum anggur dan akan lari-lari di jalan-jalan dalamkota Roma sambil membawa potongan-potongan kulit domba dan menyentuhsiapa pun yang mereka jumpai. Para perempuan muda akan berebut untukdisentuh kulit kambing itu karena mereka percaya bahwa sentuhan kulitkambing tersebut akan bisa mendatangkan kesuburan bagi mereka. Sesuatuyang sangat dibanggakan di Roma kala itu.Perayaan Lupercalia adalah rangkaian upacara pensucian di masa RomawiKuno yang berlangsung antara tanggal 13-18 Februari, di mana padatanggal 15 Februari mencapai puncaknya. Dua hari pertama (13-14Februari), dipersembahkan untuk dewi cinta (Queen of Feverish Love)bernama Juno Februata.Pada hari ini, para pemuda berkumpul dan mengundi nama-nama gadis didalam sebuah kotak. Lalu setiap pemuda dipersilakan mengambil namasecara acak. Gadis yang namanya ke luar harus menjadi kekasihnya selamasetahun penuh untuk bersenang-senang dan menjadi obyek hiburan sangpemuda yang memilihnya.Keesokan harinya, 15 Februari, mereka ke kuil untuk memintaperlindungan Dewa Lupercalia dari gangguan serigala. Selama upacaraini, para lelaki muda melecut gadis-gadis dengan kulit binatang. Paraperempuann itu berebutan untuk bisa mendapat lecutan karena menganggapbahwa kian banyak mendapat lecutan maka mereka akan bertambah cantikdan subur.Ketika agama Kristen Katolik masuk Roma, mereka mengadopsi upacarapaganisme (berhala) ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani. Antaralain mereka mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atauPastor. Di antara pendukungnya adalah Kaisar Konstantine dan PausGregory I.Agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Kristen, pada 496 M PausGelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi Hari PerayaanGereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati SantoValentine yang kebetulan meninggal pada tanggal 14 Februari.Tentang siapa sesungguhnya Santo Valentinus sendiri, seperti telahdisinggung di muka, para sejarawan masih berbeda pendapat. Saat inisekurangnya ada tiga nama Valentine yang meninggal pada 14 Februari.Seorang di antaranya dilukiskan sebagai orang yang mati pada masaRomawi. Namun ini pun tidak pernah ada penjelasan yang detil siapasesungguhnya “St. Valentine” termaksud, juga dengan kisahnya yang tidakpernah diketahui ujung-pangkalnya karena tiap sumber mengisahkan ceritayang berbeda.Menurut versi pertama, Kaisar Claudius II yang memerintahkan KerajaanRoma berang dan memerintahkan agar menangkap dan memenjarakan SantoValentine karena ia dengan berani menyatakan tuhannya adalah IsaAl-Masih, sembari menolak menyembah tuhan-tuhannya orang Romawi.Orang-orang yang bersimpati pada Santo Valentine lalu menulis surat danmenaruhnya di terali penjaranya.Versi kedua menceritakan, Kaisar Claudius II menganggap tentara mudabujangan lebih tabah dan kuat di dalam medan peperangan daripada orangyang menikah. Sebab itu kaisar lalu melarang para pemuda yang menjaditentara untuk menikah. Tindakan kaisar ini diam-diam mendapat tentangandari Santo Valentine dan ia secara diam-diam pula menikahkan banyakpemuda hingga ia ketahuan dan ditangkap. Kaisar Cladius memutuskanhukuman gantung bagi Santo Valentine. Eksekusi dilakukan pada tanggal14 Februari 269 M.

TRADISI KIRIM KARTU
Selain itu, tradisi mengirim kartu Valentine itu sendiri tidak adakaitan langsung dengan Santo Valentine. Pada tahun 1415 M, ketika Dukeof Orleans dipenjara di Tower of London, pada perayaan hari gerejamengenang St. Valentine tanggal 14 Februari, ia mengirim puisi kepadaisterinya di Perancis.Oleh Geoffrey Chaucer, penyair Inggris, peristiwa itu dikaitkannya dengan musim kawin burung-burung dalam puisinya.Lantas, bagaimana dengan ucapan “Be My Valentine?” yang sampai sekarangmasih saja terdapat di banyak kartu ucapan atau dinyatakan langsungoleh pasangannya masing-masing? Ken Sweiger mengatakan kata “Valentine”berasal dari bahasa Latin yang mempunyai persamaan dengan arti: “YangMaha Perkasa, Yang Maha Kuat, dan Yang Maha Kuasa”. Kata ini sebenarnyapada zaman Romawi Kuno ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, tuhanorang Romawi.Disadari atau tidak, demikian Sweiger, jika seseorang meminta oranglain atau pasangannya menjadi “To be my Valentine?”, maka dengan halitu sesungguhnya kita telah terang-terangan melakukan suatu perbuatanyang dimurkai Tuhan, istilah Sweiger, karena meminta seseorang menjadi“Sang Maha Kuasa” dan hal itu sama saja dengan upaya menghidupkankembali budaya pemujaan kepada berhala.
Adapun Cupid (berarti: the desire), si bayi atau lelaki rupawansetengah telanjang yang bersayap dengan panah adalah putra Nimrod “thehunter” dewa Matahari. Disebut tuhan Cinta, karena ia begitu rupawansehingga diburu banyak perempuan bahkan dikisahkan bahwa ibu kandungnyasendiri pun tertarik sehingga melakukan incest dengan anak kandungnyaitu!Silang sengketa siapa sesungguhnya Santo Valentine sendiri juga terjadidi dalam Gereja Katolik sendiri. Menurut gereja Katolik seperti yangditulis dalam The Catholic Encyclopedia (1908), nama Santo Valentinuspaling tidak merujuk pada tiga martir atau santo (orang suci) yangberbeda, yakni: seorang pastur di Roma, seorang uskup Interamna (modernTerni), dan seorang martir di provinsi Romawi Afrika. Koneksi antaraketiga martir ini dengan Hari Valentine juga tidak jelas.Bahkan Paus Gelasius II, pada tahun 496 menyatakan bahwa sebenarnyatidak ada yang diketahui secara pasti mengenai martir-martir ini, walaudemikian Gelasius II tetap menyatakan tanggal 14 Februari tiap tahunsebagai hari raya peringatan Santo Valentinus.Ada yang mengatakan, Paus Gelasius II sengaja menetapkan hal ini untukmenandingi hari raya Lupercalia yang dirayakan pada tanggal 15 Februari.Sisa-sisa kerangka yang digali dari makam Santo Hyppolytus di ViaTibertinus dekat Roma, diidentifikasikan sebagai jenazah St.Valentinus. Jenazah itu kemudian ditaruh dalam sebuah peti emas dandikirim ke Gereja Whitefriar Street Carmelite Church di Dublin,Irlandia. Jenazah ini telah diberikan kepada mereka oleh Paus GregoriusXVI pada 1836.Banyak wisatawan sekarang yang berziarah ke gereja ini pada hariValentine, di mana peti emas diarak dalam sebuah prosesi khusyuk dandibawa ke sebuah altar tinggi di dalam gereja. Pada hari itu, sebuahmisa khusus diadakan dan dipersembahkan kepada para muda-mudi danmereka yang sedang menjalin hubungan cinta. Hari raya ini dihapus darikalender gerejawi pada tahun 1969 dengan alasan sebagai bagian darisebuah usaha gereja yang lebih luas untuk menghapus santo dan santayang asal-muasalnya tidak bisa dipertanggungjawabkan karena hanyaberdasarkan mitos atau legenda. Namun walau demikian, misa ini sampaisekarang masih dirayakan oleh kelompok-kelompok gereja tertentu.Jelas sudah, Hari Valentine sesungguhnya berasal dari mitos dan legendazaman Romawi Kuno di mana masih berlaku kepercayaan paganisme(penyembahan berhala). Gereja Katolik sendiri tidak bisa menyepakatisiapa sesungguhnya Santo Valentine yang dianggap menjadi martir padatanggal 14 Februari. Walau demikian, perayaan ini pernah diperingatisecara resmi Gereja Whitefriar Street Carmelite Church di Dublin,Irlandia dan dilarang secara resmi pada tahun 1969. Beberapa kelompokgereja Katolik masih menyelenggarakan peringatan ini tiap tahunnya.

KEPENTINGAN BISNIS
Kalau pun Hari Valentine masih dihidup-hidupkan hingga sekarang, bahkanada kesan kian meriah, itu tidak lain dari upaya para pengusaha yangbergerak di bidang pencetakan kartu ucapan, pengusaha hotel, pengusahabunga, pengusaha penyelenggara acara, dan sejumlah pengusaha lain yangtelah meraup keuntungan sangat besar dari event itu.Mereka sengaja, lewat kekuatan promosi dan marketingnya, meniup-niupkanHari Valentine Day sebagai hari khusus yang sangat spesial bagi orangyang dikasihi, agar dagangan mereka laku dan mereka mendapat laba yangamat sangat besar. Inilah apa yang sering disebut oleh para sosiologsebagai industrialisasi agama, di mana perayaan agama oleh kapitalisdibelokkan menjadi perayaan bisnis.

PESTA KEMAKSIATAN
Christendom adalah sebutan lain untuk tanah-tanah atau negeri-negeriKristen di Barat. Awalnya hanya merujuk pada daratan Kristen Eropaseperti Inggris, Perancis, Belanda, Jerman, dan sebagainya, namundewasa ini juga merambah ke daratan Amerika.Orang biasanya mengira perayaan Hari Valentine berasal dari Amerika.Namun sejarah menyatakan bahwa perayaan Hari Valentine sesungguhnyaberasal dari Inggris. Di abad ke-19, Kerajaan Inggris masih menjajahwilayah Amerika Utara. Kebudayaan Kerajaan inggris ini kemudian diimporoleh daerah koloninya di Amerika Utara.Di Amerika, kartu Valentine pertama yang diproduksi secara massaldicetak setelah tahun 1847 oleh Esther A. Howland (1828 – 1904) dariWorcester, Massachusetts. Ayahnya memiliki sebuah toko buku dan tokoperalatan kantor yang besar. Mr. Howland mendapat ilham untukmemproduksi kartu di Amerika dari sebuah kartu Valentine Inggris yangia terima. Upayanya ini kemudian diikuti oleh pengusaha-pengusahalainnya hingga kini.Sejak tahun 2001, The Greeting Card Association (Asosiasi Kartu UcapanAS) tiap tahun mengeluarkan penghargaan “Esther Howland Award for aGreeting Card Visionary” kepada perusahaan pencetak kartu terbaik.Sejak Howland memproduksi kartu ucapan Happy Valentine di Amerika,produksi kartu dibuat secara massal di selutuh dunia. The Greeting CardAssociation memperkirakan bahwa di seluruh dunia, sekitar satu milyarkartu Valentine dikirimkan per tahun. Ini adalah hari raya terbesarkedua setelah Natal dan Tahun Baru (Merry Christmast and The Happy NewYear), di mana kartu-kartu ucapan dikirimkan. Asosiasi yang sama jugamemperkirakan bahwa para perempuanlah yang membeli kurang lebih 85%dari semua kartu valentine.
Mulai pada paruh kedua abad ke-20, tradisi bertukaran kartu di Amerikamengalami diversifikasi. Kartu ucapan yang tadinya memegang titiksentral, sekarang hanya sebagai pengiring dari hadiah yang lebih besar.Hal ini sering dilakukan pria kepada perempuan. Hadiah-hadiahnya bisaberupa bunga mawar dan coklat. Mulai tahun 1980-an, industri berlianmulai mempromosikan hari Valentine sebagai sebuah kesempatan untukmemberikan perhiasan kepada perempuan pilihan.Di Amerika Serikat dan beberapa negara Barat, sebuah kencan pada hariValentine sering ditafsirkan sebagai permulaan dari suatu hubungan yangserius. Ini membuat perayaan Valentine di sana lebih bersifat ‘dating’yang sering di akhiri dengan tidur bareng (perzinaan) ketimbangpengungkapan rasa kasih sayang dari anak ke orangtua, ke guru, dansebagainya yang tulus dan tidak disertai kontak fisik. Inilahsesungguhnya esensi dari Valentine Day.Perayaan Valentine Day di negara-negara Barat umumnya dipersepsikansebagai hari di mana pasangan-pasangan kencan boleh melakukan apa saja,sesuatu yang lumrah di negara-negara Barat, sepanjang malam itu. Malahdi berbagai hotel diselenggarakan aneka lomba dan acara yang berakhirdi masing-masing kamar yang diisi sepasang manusia berlainan jenis. Iniyang dianggap wajar, belum lagi party-party yang lebih bersifat tertutup dan menjijikan.

Namun yang perlu digarisbawahi bahwa Valentine’s day menjadi ajang yang salah kaprah dan digunakan dengan tidak semestinya, bahkan melanggar dengan melakukan hal-hal yang dilarang oleh norma dan agama. Sejatinya kasih sayang adalah sepanjang waktu, tak terbatas waktu dan pensakralan. Oleh karenya tidak benar kalau Valentine-an menjadi hal yang wajib bin kudu.

Jangan jadi Generasi bebek.
Jadi udah cukup jelas bagaimana sejarah Valentine’s day dan dari mana asal, terus kenapa bisa sampai ke Indonesia?. Oleh karenanya, jangan sampai kita menjadi generasi bebek, yang hanya ikut-ikutan tanpa tahu betul bagaimana sejarahnya serta asal-usulnya, bagaimanapun kita harus bangga dengan kebudayaan kita, dalam tradisi Indonesia mencurahkan kasih sayang terhadap orang yang kita cintai tidak terbatas pada waktu, makanya jangan sampai kebudayaan “asing” mengalahkan kebudayaan asli bangsa Indonesia.

Kita jangan berpikir bahwa segala kebudayaan yang datang dari barat sana tu baik, dan dianggap modern lantas kita ngelupain kebudayaan yang menjadi jati diri kita. Kita harus bangga dengan bangsa Indonesia, baik buruk rumah kita sendiri gitu kata Ia Antono. So’ kita harus bisa menunjukan jati diri kita sebagai bangsa Indonesia tanpa harus bangga dengan budaya-budaya barat sana.

disadur berbagai sumber